SURAT DARI IBU
Pergi kedunia luas anakku sayang
Pergi ke hidup bebas
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daun
Dalam rimba dan padang hijau
Pergi kelaut lapas
Pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
Dan warna senja brlum kemerah-merahan
Dan menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke serang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang kepadaku
Kembali pulang, anakku sayang
Kembali kebalik malam
jika kapalmu telah rapat ke tepi
kita akan bercerita
"tentang cinta dan hidup pagi hari"
skip to main |
skip to sidebar
SAWAH
Sawah tersusun dilereng gunung
Berpagar dengan bukit barisan
Sayup-sayup ujung ke ujung
Padi mudanya hijau berdandan
Didangau perawan duduk menyulam
Matanya memandang padi huma
Sekali-kali ia bernalam
Dipetik dari hati mudanya
Kalau pipit turun berkawan
Merayap hinggap dimayang padi
Terdengar teriak suara perawan
Menyurh pipit menjauhkan diri
kalau pipit sudah terbang
Melayang hilang pulang kerimba
Perawan bernyanyi menembang-tembang
Menyesali pipit tak tahu iba
"mengapa engkau ayuhai pipit,
Tak tahu diarti iba kasihan,
Badanku payah menanggung kasihan,
Mencucur keringat sepanjang zaman
Engkau tahu memakan saja?"
CITAKU JAUH DI PULAU
Citaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
dileher kukalungkan oleh oleh buat sipacar
angin membantu,laut terang, tapi terasa
Aku tidak'kan sampai padanya
Di air yang tenang, diangin mendayu
diperaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta,sambil berkata
"Tunjukan perahu kepangkuanku saja"
Amboi Jalan sudah bertahun kutempuh
Perahu yang bersama 'kan merapuh
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum berpeluk dengan cintaku?
Manisku jauh di pulau
Kalau 'ku mati ,dia mati iseng sendiri
(Chairil Anwar.1954)
BERPUISI MEMPERHALUS PRILAKU MENGASAH KEPEKAAN
Minggu, 02 Mei 2010
pm
SAWAH Sawah tersusun dilereng gunung
Berpagar dengan bukit barisan
Sayup-sayup ujung ke ujung
Padi mudanya hijau berdandan
Didangau perawan duduk menyulam
Matanya memandang padi huma
Sekali-kali ia bernalam
Dipetik dari hati mudanya
Kalau pipit turun berkawan
Merayap hinggap dimayang padi
Terdengar teriak suara perawan
Menyurh pipit menjauhkan diri
kalau pipit sudah terbang
Melayang hilang pulang kerimba
Perawan bernyanyi menembang-tembang
Menyesali pipit tak tahu iba
"mengapa engkau ayuhai pipit,
Tak tahu diarti iba kasihan,
Badanku payah menanggung kasihan,
Mencucur keringat sepanjang zaman
Engkau tahu memakan saja?"
P.M
CITAKU JAUH DI PULAUCitaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
dileher kukalungkan oleh oleh buat sipacar
angin membantu,laut terang, tapi terasa
Aku tidak'kan sampai padanya
Di air yang tenang, diangin mendayu
diperaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta,sambil berkata
"Tunjukan perahu kepangkuanku saja"
Amboi Jalan sudah bertahun kutempuh
Perahu yang bersama 'kan merapuh
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum berpeluk dengan cintaku?
Manisku jauh di pulau
Kalau 'ku mati ,dia mati iseng sendiri
(Chairil Anwar.1954)
Sabtu, 01 Mei 2010
p.m
DIPONOGORO
Di mana pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar.Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselendang semangat yang tak bisa mati
MAJU
Ini barisan tak bergenderang- berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas mengahamba
Binasa di atas ditindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Chairil Anwar 1943)
Di mana pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar.Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselendang semangat yang tak bisa mati
MAJU
Ini barisan tak bergenderang- berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas mengahamba
Binasa di atas ditindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Chairil Anwar 1943)
p.mp
DI ATAS TAHTA KEBOHONGAN
Dua belas bulan
aku berkelana di dunia asing
tanpa dasar ilmu
kesengsaraan lahirbatin
kala diletakan kertas bertulis
asing ilmu gelappengab
namun takkuasa menolak
Sebuah karya tertulis sudah
peroleh tahta gelar MPd
namun ini kebohongan glomour
menipu diri...
hianati ilmu...
akankah ini tuntas
terhapus dosa-dosa
penghianatan dasar-dasar ilmu
sementara hati bertaut
pada ilmu dasar sejati
barulah terobati
waktu mengatur tuk berpulang
pada keabadian ilmu pertama
dutahapan kan terlangkahi
sbagai pengabdian abadi
pada Tuhan...
pada ilmu...
(lili mulyadi/smpn 2 mandirancan)
Dua belas bulan
aku berkelana di dunia asing
tanpa dasar ilmu
kesengsaraan lahirbatin
kala diletakan kertas bertulis
asing ilmu gelappengab
namun takkuasa menolak
Sebuah karya tertulis sudah
peroleh tahta gelar MPd
namun ini kebohongan glomour
menipu diri...
hianati ilmu...
akankah ini tuntas
terhapus dosa-dosa
penghianatan dasar-dasar ilmu
sementara hati bertaut
pada ilmu dasar sejati
barulah terobati
waktu mengatur tuk berpulang
pada keabadian ilmu pertama
dutahapan kan terlangkahi
sbagai pengabdian abadi
pada Tuhan...
pada ilmu...
(lili mulyadi/smpn 2 mandirancan)
pm
HUJAN RISIK SEPANJANG MALAM
Sepanjang malam hujang yang risik mengisi
tamasya langit dengan senandung bunga-bunga layu
Bayang-bayang matahari yang rindu menyelinap
antara berkas-berkas yang digoreskan waktu
Dijendela cahaya lampu terbaring memejamkan mata
dicium kaca yang muram, tetesan air di bawah bumi
fajar tiba angin memenuhi pantai yang bersih
dengan perahu-perahu nelayan.
Ah, tapi serasa ada yang hampamendesir sekoyong-koyong
membuka pintu rumahku yang lesu di ketok musim semi
( Abdul Hadi W.M )
1974
Sepanjang malam hujang yang risik mengisi
tamasya langit dengan senandung bunga-bunga layu
Bayang-bayang matahari yang rindu menyelinap
antara berkas-berkas yang digoreskan waktu
Dijendela cahaya lampu terbaring memejamkan mata
dicium kaca yang muram, tetesan air di bawah bumi
fajar tiba angin memenuhi pantai yang bersih
dengan perahu-perahu nelayan.
Ah, tapi serasa ada yang hampamendesir sekoyong-koyong
membuka pintu rumahku yang lesu di ketok musim semi
( Abdul Hadi W.M )
1974
DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRAN
PENGHIDUPAN
SEMUANYA BISA DENGAN ILMU